Langsung ke konten utama

TURUTI BANK DUNIA, SBY NAIKKAN BBM


Meski sudah menaikan berkali-kali, rezim SBY akan terus menaikan harga BBM sampai sesuai dengan harga pasar dunia. Selama harganya masih di bawah harga dunia, rezim selalu mengeluh bahwa subsidi BBM memberatkan bahkan APBN bisa jebol karenanya. Namun anehnya, tanpa mengeluh selalu rajin bayar bunga bank yang jelas-jelas haram dan mencekik leher itu, mengapa itu bisa terjadi? Temukan jawabannya dalam perbincangan wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Pengamat Kebijakan Publik Ichsanuddin Noorsy. Berikut petikannya.

Bagaimana tanggapan Anda terkait iklan di televisi yang menyatakan setiap tahunnya negara telah menyubsidi ratusan trilyun untuk BBM namun 80 persennya tidak tepat sasaran?
>> Iklan itu menyampaikan satu pemikiran yang salah. Dan kesalahan yang disampaikan secara terus menerus kepada masyarakat maka kesalahan itu akan dianggap sesuatu yang benar. Maka masyarakat akan berpendapat, "Ya, subsidi itu salah sasaran:'
Padahal pengertian subsidi, masih harus diperjelas. Yang kedua, ketika subsidi itu masuk kepada hajat hidup orang banyak, maka dia tidak mendiskriminasikan atau membeda-bedakan orang. Maka, subsidi energi tidak membedakan orang kaya-orang miskin.
Jadi sebenarnya pemerintah itu sekadar menjalankan perintah Bank Dunia. Karena memang Bank Dunia menyatakan subsidi BBM salah sasaran.

Apakah dengan menaikkan BBM, orang miskin jadi sejahtera?
>> Tidak, pasti tidak. Karena kenaikan harga BBM berarti pemangkasan daya beli. Berarti pemiskinan struktural.

Kan orang miskin dikasih BLSM...
>> Meski dikasih BLSM, meski dikasih balsem, atau program-program yang lain, tidak akan menyejahterakan. Karena itu memang fungsinya hanya memberikan bantalan sementara saja, agar pemiskinan struktural tertunda berjalannya. Begitu lepas balsemnya atau BLSM-nya, pemiskinan struktural langsung berjalan cepat dan mendalam.

Indikasinya?
>> Salah satu indikatornya, lihat saja Gini Rasio. Di era SBY ini, Gini Rasio yang tadinya 0,32 menjadi 0,42. Pemilik rekening yang dua milyar ke atas, jumlahnya makin sedikit tetapi jumlah tabungannya semakin besar (jumlah orang kaya semakin sedikit tetapi kesenjangan dengan yang miskin semakin lebar, red).
Dan Anda bisa lihat sekarang, banyaknya orang¬-orang berebut beli rumah hanya untuk investasi bukan untuk ditinggali. Dari situ saja sudah tampak jelas ketimpangannya. Sehingga pemiskinan struktural semakin dalam.

Indilkasi lainnya?
>> Terjadi devisit neraca perdagangan, neraca berjalan dan neraca modal, yang berujung pada menurunnya cadangan devisa.

Sebetulnya yang membebani APBN itu subsidi BBM atau utang?
>> Utang. Untuk rekap saja setiap tahun ke London Rp 10 trilyun. Catatan bunga luar negeri juga ratusan trilyun. Jumlah utang luar negeri di era SBY sekarang 2.378 trilyun. Khusus utang pemerintah, di luar swasta, pertahun SBY berutang Rp 500 trilyun.

Untuk apa SBY berutang? Untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup orang banyak atau bukan?
>> Dalam kontruksi utang, tidak pernah ada dalam perencanaan strategisnya untuk kesejahteraan rakyat.
Teori yang dibangun oleh Barat sendiri, utang adalah senjata untuk menjajah. Karena dari utang itu, sesungguhnya pemerintah yang memiliki debitur membelanjakannya kembali kepada negara yang memberi kreditor.
Jadi negara pengutang tidak pernah menerima kekayaan dari basil utang itu. Makanya, munculah istilah yang disebut Fisher paradoks, "Makin besar bunga dan cicilan utang yang dibayar, makin besar utang yang tercipta. Makin besar utang yang tercipta, makin besar cicilan dan bunga yang dibayar."
Itu artinya, sudah terperangkap utang. Yang terjadi berikutnya adalah negara itu tidak lagi berdaulat secara ekonomi.

Jangan-jangan BLSM juga dapat ngutang?
>> Kalau Anda lihat Development Goal Program di Asian Depelopment Bank (ADB), dan Anda juga melihat Development Policy Loan Program dari The International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) maka tidak ada pinjaman dari dua institusi itu yang tidak digunakan untuk kepentingan "mengatasi kemarahan masyarakat" karena kenaikan BBM.
Bagaimana agar masyarakat tidak marah? Ya dikasih BLT, balsem, dikasih raskin, dll. Dari mana dananya? Ya dari utang luar negeri. Membangun kebijakannya saja sudah pakai utang kok, apalagi kontennya.

Lantas mengapa rezim SBY lebih memilih menaikkan harga BBM daripada stop bayar bunga dan jadwal ulang bayar utang?
>> Kan sejak Leters of Intent diterbitkan oleh IMF di penghujung era Soeharto, lalu kemudian USAID pada 2000, lalu selanjutnya perjanjian dengan Bank Dunia, lalu berikutnya perjanjian dengan ADB, dan seterusnya, kan perintahnya pemerintah Indonesia wajib memberikan komitmennya melakukan mekanisme pasar bebas pada sektor energi.
Jadi wajar saja kalau SBY ingin menaikkan BBM. SBY lebih peduli pada janjinya kepada orang-orang asing ketimbang janjinya kepada rakyatnya sendiri.

Mengapa lebih peduli kepada asing daripada rakyat sendiri?
>> Saya kira ada persoalan-persoalan tertentu, seperti dalam bangunan hubungan kekuasaan. Bangunan hubungan kekuasaan itu dianggap lebih kuat dengan orang asing ketimbang dalam negeri. Dalam negeri, gampang diatur. Sehingga memenuhi kepentingan orang asing lebih utama daripada memenuhi kepentingan dalam negeri.

Itu pula yang menyebabkan SBY selalu mengeluh terkait subsidi BBM tetapi selalu rajin bayar bunga utang kepada asing?
>> Karena itu semua merupakan bagian dari sistem tegaknya ekonomi neoliberal bahwa perekonomian lebih berpihak pada pemodal daripada rakyat banyak. Jadi kalau mereka mengeluh pada subsidi BBM, tetapi tidak pernah mengeluh pada subsidi rekap, pada bunga utang yang tinggi, juga tidak mengeluh pada bunga utang luar negeri yang menjerat dan juga melakukan privatisasi itu karena pemerintah memang menjalankan prinsip neoliberal.

Tapi SBY berulang kali membantah menerapkan ekonomi neoliberal...
>> Iya, pada 2007, SBY mengatakan tidak menerapkan sistem neoliberal, pada kampanye 2009 ia menyatakan akan menerapkan ekonomi jalan tengah dan tidak akan menerapkan ekonomi neoliberal. Tetapi fakta yang dipraktikannya berkata lain, sejak 2005 hingga sekarang yang diterapkannya adalah ekonomi neoliberal.

Apa indikatornya bahwa suatu negara terjerat system ekonomi neoliberal?
>> Ada tiga indikator. Pertama, yang mereka selalu dengung-dengungkan "defisit anggaran " Padahal yang mereka maksud dengan defisit sama dengan aturan yang membatasi pemerintah untuk belanja barang-barang modal untuk memenuhi belanja sosial, sekaligus untuk membatasi pemerintah agar tidak melakukan investasi pada hajat hidup orang banyak. Makanya, mereka selalu mengurangi subsidi.
Kedua, liberalisasi di semua sektor baik politik maupun ekonomi. Perintah dari neoliberal adalah lakukan liberalisasi perekonomian, dari mulai hajat hidup orang banyak, dari mulai sumber daya dari produksi sampai distribusi, semua harus mereka liberalkan.
Ketiga, privatisasi. Jika pemerintah sudah terlanjur terlibat dalam penyedian untuk hajat hidup orang banyak, dalam penyaluran untuk hajat hidup orang banyak, maka pemerintah harus memprivatisasi.
Kalau salah satunya saja tidak dilakukan, maka pemerintah dianggap tidak patuh pada ketentuan-ketentuan ekonomi internasional. Itulah bego-nya ekonom-ekonom yang tunduk kepada prinsip ekonomi internasional. Seolah-olah kalau mereka tidak tunduk pada ketentuan ekonomi internasional mereka kelihatan tidak bergengsi, seakan-akan mereka tidak keren.
Padahal faktanya, dengan tunduk pada kaidah-kaidah ekonomi internasional, yang sebagian besarnya digunakan untuk menjajah, itu akan memberikan akibat suatu negara perekonomiannya menjadi tidak berdaulat sebagai mana yang terjadi pada Indonesia sekarang ini.[HrS]

Written By Nova Hafidzah on Jumat, 21 Juni 2013 | 20.12.00
Ikhsanuddin NoorsyiWawancara dengan : Ichsanuddin Noorsy
Pengamat Kebijakan Publik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rakerda PKS Majalengka 2025: Sinergi Anak Muda, Kepedulian Disabilitas, dan 8 Program Unggulan "Solid, Bergerak, Melayani"

  (Suasana Serba Orange di Rakerda PKS Majalengka tahun 2025) MAJALENGKA – Dewan Pimpinan Tingkat Daerah (DPTD) PKS Majalengka sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) pada Sabtu, 20 Desember 2025. Bertempat di Aula DPD PKS Majalengka, kegiatan ini mengusung tema besar "Solid, Bergerak, Melayani" . Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya: Ust. H. Hari Suswono (Sekretaris MPW PKS Jawa Barat) Ir. H. Ateng Sutisna (Anggota DPR-RI) dr. H. Encep Sugiana (Anggota DPRD Jawa Barat) Kang Deden Hardian Narayanto (Kang Dehan) (Ketua DPD PKS Majalengka & Wakil Ketua 1 DPRD Majalengka) Seluruh Anggota Legislatif DPRD Kabupaten Majalengka dari Fraksi PKS. Struktur DPD (Kabid & Sekbid) serta Ketua DPC dari 26 kecamatan se-Majalengka. (Penampilan Angklung oleh Anak Istimewa SLB) Salah satu momen paling menyentuh dalam Rakerda kali ini adalah kehadiran anak-anak istimewa dari SLB Negeri dan SLB Swasta di Majalengka. Sebagai bentuk nyata kepedulian PKS...

Dukung Pelestarian Budaya dan Genetik Domba, Ika Purnama Alam Hadiri Kontes Ketangkasan Domba Garut

  Majalengka -  Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) DPC Majalengka menggelar acara Kontes Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) Piala DPD dan Kualifikasi Piala Presiden. Pada tahun 2023 ini, Majalengka menjadi tuan rumah putaran 8 terakhir Se-Jawa Barat (22-23/07). Hari Pertama Kegiatan Kontes Ketangkasan  Domba Garut Kontes Domba Kambing ini diselenggarakan sebagai bentuk perayaan Hari Jadi Majalengka Ke-533 dan dihadiri oleh Wakil Bupati Majalengka, Perwakilan Polres Majalengka, Kadis Budpar, Ika Purnama Alam (Aleg F-PKS / Dewan Pembina HPDKI), Camat Dawuan, Polsek Dawuan, Danramil Dawuan, DPD HPDKI Jabar, Pengurus DPC HPDKI Majalengka, serta Peternak Domba Garut Se-Jawa Barat dari pemengpek Garut, Pelabuan Ratu, Sukabumi, Banten, Majalaya, Bandung dan lainnya. Hari Kedua Pelaksanaan Kontes Ketangkasan Domba Garut Ika berharap, acara ini dapat menjadi ajang pelestarian budaya dan genetik domba garut yang menjadi identitas domba Jawa Barat, meningkatkan m...

Safari Ifthor PKS: Sinergi H. Ateng dan Kang Dehan Berdayakan Ekonomi Warga Majalengka

Kegiatan ini bukan sekadar buka puasa,  tapi ada misi pemberdayaan ekonomi yang dibawa    MAJALENGKA – Semangat kebersamaan dan konsolidasi struktural menyelimuti kegiatan Safari Ifthor Jama’i Ramadhan 1447 H yang digelar DPD PKS Majalengka di Daerah Pemilihan (Dapil) 5. Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi ajang penguatan visi pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus konsolidasi akar rumput.  Hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPR-RI dari Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA. , didampingi Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, dr. H. Encep Sugiana . Kehadiran para pimpinan DPTD PKS Majalengka, pengurus DPC, hingga jajaran ranting (DPRa) menambah kekompakan agenda buka puasa bersama ini. Dalam arahannya, H. Ateng Sutisna menyoroti besarnya peluang ekonomi di wilayah Dapil 5 yang mencakup sektor pertanian, peternakan, hingga kepemudaan. Beliau mendorong kader dan masyarakat untuk membentuk komunitas-komunitas produktif yang mampu mengelola potensi lokal sec...