Tarbiyah Jadikan Hudzaifah Ikhlas Memberikan yang Terbaik untuk Ayahnya

Ina Djafar adik dari almarhum Ustadz Muhamad taufik Ridlo menulis status di laman facebooknya pasca pemakaman almarhum, dengan tajuk “12 Jam bersama Hudzaifah Muhibullah bin Muhamad Taufik Ridlo”. Inilah isi dari status FB dari akun Ina Nur pada Ahad 5 Februari 2017. 

12 Jam bersama Hudzaifah Muhibullah bin Muhamad Taufik Ridho


Jam menunjukan pukul 13.30 ketika aku masuk ke kamar Hudzaifah dirawat Paska operasi transplantasi hati untuk abinya. Kami keluarga yang akan menemaninya sdh diwanti wanti agar tidak memberitahu Hudzaifah tentang belum jadinya sebagian organ hatinya dipersembahkan untuk abi yang dikasihi sepenuh hatinya. Tim dokter RSCM yang akan menjelaskan bersama Psikolog kata salah seorang dokter yang menemui uminya paska batalnya transplantasi.

Ketika bertemu adiknya Dzubyan Nur Rahman di ruangan, ku tanya apakah kakaknya sudah siuman ?

“Sudah, A Udep nanyain ummi terus” Kata Byan
“Kamu tdk mengatakan apa apa kan Byan tentang pembatalan transplantasi itu?
Byan menggeleng, dan segera kusuruh dia pergi makan.


Kuhampiri perlahan tubuh pemuda tegap yang kini terbaring lemah paska operasi. Kuamati dengan seksama matanya terpejam. Mulut dan hidungnya ditutupi masker oksigen. Dari hidungnya ada selang keluar bermuara di sebuah kantong plastik yg sdh terisi darah yang dikeluarkan dari lambung sisa sisa bekas operasi. Selang infus di tangan kirinya.
Membayangkan berapa jahitan untuk luka yang sudah dibuat untuk operasi ini dan kenyataan atas batalnya transplantasi betapa tidak bisa menahan tanganku untuk tidak mengusap pelan kepala Hudzaifah.


Tak kuduga usapanku membuatnya terbangun…..sesal dalam hatiku ketika kulihat Udep seperti mengehembuskan napas berat dan memejamkan mata lagi….kemudian berguman tidak jelas……namun sayup kudengar dia memanggilku…..bi Ina…bi Ina ….nggak jadi….si Abi nggak bisa…

“Apa ?” Tanyaku sambil lebih mendekat ke mukanya
“Transplantasinya nggak jadi….”
“Apa….apa Udep ? Kata siapa ?” Aku masih belum paham arah pembicaraanya dan kupikir anak ini masih setengah sadar dari pembiusan.

“Iya..Abi tidak bisa ditransplantasi”
“Udep dengar darimana ? Apa di ruang operasi kamu dengar ada dokter bilang begitu ?
“Nggak…..tadi waktu Udep sadar, Udep tanya jam berapa sekarang, terus ada paramedis yang jawab setengah dua belas. Kenapa kata Udep cepat sekali baru setengah dua belas sudah selesai bukankah operasi ini lama ?. Terus paramedis itu bilang ya cepat karena transplantasinya tidak jadi. Ayah kamu tidak bisa ditransplantasi”


Ya Allah…..aku tercenung…..kehilangan kata kata dan berusaha menahan air mataku yang akan tumpah melihatnya berlinangan air mata.

Kuambil tissu dan menguatkan diri menghapus air matanya sambil berpikir keras apa yang harus kukatakan dan teringat pesan Tim dokter yang akan menjelaskan.


“Bi Ina …..boleh oksigen ini dilepas ?…..aku merasa sesak napas pakai alat ini”
“Udep …..transplantasi bukan tidak jadi…tapi belum jadi” akhirnya kuputuskan biarlah mendahului tim dokter, karena kupikir bukan masker oksigen yang membutnya sesak napas sambil bercucuran air mata.
“Belum jadi saat ini……karena ketika abi sudah diinsisi baru tampak ada infeksi ya…..seperti sariawan kecil (sedikit sok tahu) di usus bagian luar yag tidak terdeteksi endoscopy, MRI, CT Scan……sementara yang ditransplantasi itu tidak boleh ada infeksi karena antibodynya akan dilemahkan supaya ketika ada benda asing (hati yang dicangkokan) tidak diserang…..jadi abi akan diobati dulu infeksinya……” dengan sok tahu aku mencoba menenangkannya.

“Lalu berapa lama luka ini sembuh ?…….apakah udep masih bisa dioperasi lagi nanti di bekas luka ini ?
Ya Allah………betapa tak kuat aku menatap mata anak ini…..mata yang penuh kecemasan…..mata yang penuh harapan bisa mengorbankan apapun demi abinya.

“Ah luka ini mah seperti operasi caesar Dep…..ibu ibu yang dicaesar 2 atau 3 hari sudah boleh pulang” kembali aku sok tahu.
“Terus bisa dioperasi lagi ?”
“Ibu ibu juga yang dicaesar bisa punya anak 2 atau 3 dengan jàlan dicaesar lagi Udep….”

Terlihat dia mulai tenang dan sayup binar matanya mulai terlihat. Aku bernapas lega merasa Udep sudah tenang, kuusap tangannya…….tapi beberapa detik kemudian mulai tampak lagi kecemasan dan bergumam…..berarti bulan Maret…..masih lama…
“Kenapa bulan Maret ?” tanyaku
“Ya kan dokter Jepang datangnya 1 bulan sekali”
“Nggak…”sanggahku.”Tadi dokter Jepang bilang ke mang Yono ANYTIME…..infeksi sembuh dia akan datang”
“Apakah abi akan kuat bertahan ? Bagaimana kalau abi tidak kuat ?” Tanyanya penuh kecemasan dan mata itu kembali berkaca kaca perlahan menganak sungai.
Dan itu pulalah yang selalu terlintas dalam pikiran dan hatiku.

“Udep……ayolah berhenti memikirkan pekerjaan Allah……mari kita husnudzon padaNya………” kuucapkan kata kata itu juga untuk menguatkan galau hatiku.

Pukul 21.45 ketika Imanuddin Kamil adik laki lakiku yang no 6 yang berjaga di ruang ICU mengabari ada yang mau disampaikan ke istri Muhammad Taufik tidak boleh diwakilkan, teh Neneng Fatonah, teh Liah dan saya bergegas menuju ruang ICU. Kami dikumpulkan dalam satu ruang kecil dan dikabari kondisi Abinya Hudzaifah perburukan…..dalam kegamangan penerangan dari dokter yang panjang lebar membuat tubuh kami serasa tak bertenaga……setelah sebelumnya beberapa jam paska operasi masih terdengar kabar melegakan kondisi abinya stabil……Kamil langsung menanyakan apa diperbolehkan mendampingi. Dan kami diijinkan bergatian 2 orang. Sambil menunggu Kamil bewudhu, teh Liah mengatur yang pertama masuk Kamil dan saya. Kamil tidak keluar tapi terus mendampingi, saya tidak boleh lama harus keluar diganti Ghiats (anak ke 5 Ust.Taufik). Saya harus secepatnya memanggil Sumayah Taufik dan Dzubyan yang berada di kamar Hudzaifah dan mendampingi Hudzaifah sampai kemudian nanti ada yang mengganti saya untuk kembali ke ruang ICU.

Hampir pukul 10.30 malam ketika aku sampai di kamar perawatan Hudzaifah. Bergegas kusuruh Sumayah dan Byan menuju ruang ICU. Hudzaifah kulihat tertidur tenang, lantunan surat Yaa sin terdengar dari HP disamping telinga kirinya.

Aku duduk di sofa samping tempat tidurnya. Hening…….sepi…..di ruangan ini. Tapi ketenangan ini tidak mampu meredakan hati dan pikiranku yang mengembara ke ruang ICU……..kuperhatikan Hp….namun tak ada kabar …………kukirim tanya……tak jua ada jawaban. Kutenangkan diri dengan tilawah, sehingga pikiranku mengatakan sepertinya sudah membaik sebagaimana masa masa kritis di hari hari kemarin.


Pukul 12.00 ada perawat masuk ingin memberikan suntikan dan mengganti infus dengan botol kecil parasetamol. Hudzaifah masih tertidur pulas. Tapi tak lama kemudian ketika infus parasetamol tersisa 3/4 nya Hudzaifah terbangun dan mengatakan tangan kanannya sakit sekali. Bergegas kupanggil perawat. Digantinya botol parasetamol dengan infus biasa lagi. Ketika Hudzaifah mengatakan rasa nyerinya sudah berkurang, perawat pun meninggalkan kami. Sebelum tertidur kembali Hudzaifah menghentikan alunan murotal.

Pkl.01.00 wajah Abinya Udep terus melintas dalam lintasan pikiranku. Kegelisahanku memuncak, tapi bila hari hari sebelumnya lintasan wajah kesakitan dan tubuh kurusnya yang selalu membayangiku dan membuat titik air mataku, saat itu yang bermain dalam lintasan pikiranku wajahnya yg tersenyum dan tubuh yang segar bugar. Sehingga batinku berkata, Allah Robby akan mengembalikannya seperti itu. Sehingga kegelisahan itu bisa kuatasi. Kuperiksa Hp. tidak ada jawaban dari pesan pesan yg kukirim, yang masuk kebanyakan menanyakan bagaimana kondisi abinya Udep.

Pkl.01.10 kucoba merebahkan diri di sofa dan baru terasa udara dingin menusuk tubuhku , kuambil selimut dan tak terasa aku tertidur. Pkl. 01.31 sayup sayup kudengar Hudzaifah memanggilku…..sontak aku terbangun dan segera menghampirinya.

“Bi Ina…….abi……abi…….benar sudah nggak ada ?” tanyanya setengah kebingungan.
“Apa ?…..apa ? Kata siapa ?” Akupun tak kalah bingung.


Hudzaifah menyodorkan Hpnya. Dan kubaca percakan via WA dengan kawannya yang mengkonfirmasi tentang berita kepergian abinya. Dalam percakapan itu sahabatnya mengira Hudzaifah satu kamar dengan abinya.


Sementara di ruang ICU sedang diatur cara memberitahu kepergian abinya padaku dan Udep. Mereka khawatir jika mengabariku, aku tak bisa menahan tangis di hadapan Udep.

Qoddarullah……Engkau sebaik baik pemberi Ta’dieb pada Hudzaifah.

Tak bisa kubayangkan apa yang akan berkecamuk pada perasan Hudzaifah, jika dikabari kepergian abinya sesudah dimakamkan. Atau pagi harinya ketika jenazah abinya sudah dibawa ke Kalibata.


Ketika Hudzaifah mengatakan ingin ketemu abi dulu………dengan keyakinan penuh Allah tengah menta’dieb anak ini dan Allah jualah yang akan menguatkan Hudzaifah, maka aku minta tolong kepada para perawat yang juga ikut meneteskan air mata, untuk memintakan ijin dokter mempertemukan Hudzaifah dengan abinya. Dokter ijinkan Hudzafah dibawa menemui abinya jika sudah dipindah ke kamar jenazah.

Di kamar jenazah berdampingan dua tubuh yang sama sama terbaring pada blankar, sama sama mempunyai luka yang belum mengering di area yang sama area organ hati, dua tubuh yang mempunyai isi hati yang sama, saling cinta dan saling sayang. Hudzaifah berkesempatan bersentuhan fisik dengan abinya walau sekedar mengusap untuk terakhir kalinya diiringi tangisan pilu orang orang yang menjadi saksi pertemuan ayah dan anak yang telah berbeda dimensi.

Hudzaifah Muhibulloh anakku………..

Semoga kamu mencintai dan dicintai Allah sesuai dengan nama yang diberikan abimu.
Barokalllah fiek…..Skenario Allah dalam menta’diebmu sungguh indah, nak. Bekas luka operasi yang akan ada di tubuhmu sepanjang masa adalah kenangan terindah seolah seperti abi yang menyertai langkahmu dan menguatkanmu untuk meneruskan dakwah seperti abimu…..di yaumil hisab luka itu yang akan menjadi saksi baktimu pada abimu.

Hudzaifah Muhibulloh anakku………….

Demi hari tanggal 5 Februari 2017 yang pernah kita lalui bersama….jika kelak di surgaNya kau tidak mendaptkan aku yang hanya sebutir debu di gurun sahara ini…….cari aku nak ! Bibimu. Tanyakan pada Allah dimana keberadaanku, nak.


Karawang, Feb 2017
Ina Dja’far04


[Sumber : https://www.facebook.com/ina.nur.77/posts/10206836465030679]