"Mengapa Harus Salah, HTI?"

"Mengapa Harus Salah, HTI?"

Oleh Yusuf Maulana
(Kolomnis Islampos, tinggal di Yogyakarta)

DARI seorang aktivis dakwah saya mendapatkan berita itu: sebagian petinggi Hizbut-Tahrir Indonesia (HTI) di Yogyakarta memilih Joko Widodo sebagai calon presiden. Berita yang nyaris tidak saya percaya sampai saya harus meminta sang aktivis itu bersumpah. Berita itu diperolehnya dari salah satu petinggi HTI Yogyakarta. Walaupun secara jamaah dan pribadi si petinggi itu memilih golput, beberapa koleganya di HTI mendukung Jokowi. Sebuah putusan yang berbeda dengan umumnya para aktivis harakah, bahkan kalangan yang selama ini menolak demokrasi sekalipun.

Tidak hanya sumpah yang membuat saya (terpaksa) percaya, namun juga aktivitas sang teman juga tidak bisa membuat saya bergeming. Sebagai pegiat hisab dan rukyah, dia tidak dilatih untuk berhati-hati sehingga amat tidak mungkin berdusta. Amat cacat bila ia menelikung berita ini, sementara aktivitasnya selaku pemandu umat dalam penentuan Ramadhan, misalnya, mengharuskan ia jujur dan transparan.

Berita itu jelas mendekati derajat dipercaya, meski harus disikapi berhati-hati. Ada kalangan di HTI, khususnya di Kota Pelajar, yang secara kalkulasi dan pertimbangan agama, menetapkan Jokowi sebagai yang ‘utama’ demi kelangsungan syariat Islam. Sekali lagi, ini belum tentu mewakili sikap kolektif HTI. Menariknya, pelaku mendukung Jokowi bukan aktivis bawah, melainkan ‘petinggi’. Respons dingin koleganya yang terkesan berlapang dada jelas menarik. Tidak lazim kalangan yang sengit pada demokrasi justru diam tenang manakala ikhwan sejamaahnya menabrak kredo harakah.

Sebagai manusia berpolitik, aktivis HTI bisa saja punya perhitungan tersendiri, baik bagi Islam, Indonesia, atau sekadar kelompoknya. Kita tidak tahu isi hati para aktivis HTI yang memilih sadar Jokowi. Menariknya, mengapa para aktivis yang mau masuk bilik suara saat pemilihan presiden itu tidak mendukung Prabowo Subianto segalibnya dukungan banyak aktivis harakah Islam di luar HTI? Saat pegiat Salafi dari pelbagai faksi mau berduyun-duyun mendukung Prabowo dengan ‘kedaruratan’, sebagian aktivis HTI memilih berbeda.

Posisi HTI memang sering ‘menarik’ ditilik. Ibarat pelangi, HTI seolah tidak mau berada dalam spektrum cahaya yang sudah menjadi takdir warna-warni ciptaan Allah ini. HTI ingin berada dan berbeda diri sesuai kalkulasi yang (mungkin) sudah ditimbang masak-masak. Entah mengapa, kerap kali kulikan HTI kadang membeda diri dari yang sudah diteduhi sebagai harapan sebagian (besar) umat. Soal oknum aktivis HTI yang memilih Jokowi hanya contoh kecil saja.

Saat ini, pengguna internet dibuat gusar bercampur bingung dengan berita resmi dari laman HTI yang mempersoalkan hubungan dagang Turki dan Israel. Persoalan Turki-Israel dilihat HTI secara hitam-putih tanpa memberi ruang adanya jalan tafsir lain sebuah perjuangan ekonomi, misalnya. Nuansa dan aroma yang dihadirkan dari tulisan laman tersebut memang bernada tidak puas. Bukan sekali ini Turki di bawah kendali Erdogan dari kalangan islamis dinyinyiri HTI. Bila perjuangan Turki saat mengawal Mavi Marmara saja dipandang sebelah mata sebagai konspirasi menurut versi HTI, terlebih lagi perdagangan Turki-Israel yang praktis berstatus resmi. Jadilah, ini semacam bahan untuk ‘menasihati’ Erdogan, bahkan mungkin para pendukungnya di tanah air kita.

Turki, bersama Arab Saudi, tampaknya sudah ‘takdir’ untuk selalu ‘dikaji’ HTI. Dicari-cari mana yang patut diluruskan, dibenahi, dan dikritisi. Soal marhalah bertahap dari kalangan yang dikaji tidak mau dipusingkan. Rasa syukur ada yang mau ‘kotor’ masuk demokrasi atau bersiasat (terpaksa) menjalin mitra dengan musuh Islam, tak pernah tampak. Semua bak hitam. Saya yakin, dalam hati aktivis HTI sejatinya mau mendakui adanya kebaikan pada saudara seimannya. Sayang, keadilan menilai semacam ini belum begitu digalakan. Adil menilai kawan sebelum berhujah pentingnya khilafah sejatinya sebuah keindahan persatuan tersendiri, yang bisa meraih simpati banyak pihak alih-alih terus paksakan taktik dari otak sendiri.

Respons HTI pada gilirannya melahirkan penyikapan yang simplifikasi. Sebagian dari mereka yang sering ‘dikoreksi’ seolah ‘frustrasi’ dengan pola HTI yang lumayan akurat ‘menguliti’. Tidak heran ada kesan semacam ini: “Mungkin tidak hanya di sini, tapi di seluruh penjuru Bumi yang mendarasi karya-karya Syeikh Taqiyyudin an-Nabhani akan berserupa begini.” Semoga saja ini sekadar hasil tafsiran temporer, dan bukan sikap permanen dalam menilai HTI.

Sudah waktunya bagi HTI secara jamaah untuk mau menghargai orang lain. Jangankan sesama Muslim, orang di luar Islam saja perlu diapresiasi atas kontribusi dan karya nyatanya yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Tarbiyah, Salafy, NU, adalah saudara seiring. Ada perbedaan, entah lebar ataupun sempit, tapi ini tidak berarti melupakan persatuan. Selalu membedakan diri jelas tidak elok demi terwujudnya kesatuan umat. Saat kalangan harakah lain repot-repot mengumpulkan dana untuk saudaranya di Palestina, HTI pun bisa berbuat dengan cara serupa atau bahkan lebih baik lagi. Diam sebagai bentuk berbagi peran dengan harakah lain, akan lahirkan emas, alih-alih menyindiri saudara seiman yang rela berpanas ria.

Bagaimanapun juga, HTI punya kelebihan. Misalnya, mau mengkaji hal-hal berat tentang pemikiran, ketika banyak aktivis harakah lain menikmati kepraktisan amalan. Tinggal bagaimana kelebihan ini tidak membuat jumawa untuk seolah berada di menara gading yang membolehkannya menjadi penilai tapi lupa—saat yang sama—meniliki besarnya amal diri bagi umat ataupun bangsa. Jadi, jangan sampai publik awam seolah bingung saat tema persatuan dan kesatuan umat digaung-gaungkan di mana-mana, ternyata masih ada anasir menyempil yang selalu menyalah-nyalahkan.***

*sumber: Islampos.com (6/2/2015)