Selamat Tinggal Sayang…

Kisah ini ku persembahkan untuk adik tercinta.
I Love you so much… and I will always miss you

Kisah nyata ini terjadi pada tahun 2009 dan 2010 yang lalu di Kota Bandung. Sepasang suami istri sangat berbahagia mendengar dokter mengatakan bahwa mereka akan dikaruniai anak kedua. Namun di tengah kebahagiaan mereka Dokter memberitahukan kabar duka kepada mereka bahwa rahim sang istri tidak sehat dikarenakan terkena KISTA. Sang Dokter berpesan bahwa pertumbuhan si bayi akan berkembang seperti biasanya akan tetapi dalam proses persalinan yang akan datang maka Rahim sang istri harus diangkat demi kesehatan dan masa depan di si ibu. Spontan saja kebahagiaan itu sedikit terluka mendengar berita tersebut terlebih kepada sang suami, namun sang suami tetap tabah dan tetap memberikan semangat kepada sang istri. Melihat Sang Suami tetap semangat dan selalu mendampinginya, Sang Istripun tidak mau kalah untuk terus tetap memperjuangkan Calon Buah Hati mereka berdua dengan resiko apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Sepulangnya mereka dari rumah sakit, Sang Istri langsung menemui Orangtua dan menghubungi keluarganya yang lain dengan memberitahukan bahwa mendapat berkah dari Allah SWT calon anak kedua. Mendengar berita ini orangtua pun berbahagia dan memberikan ucapan selamat atas kehamilan anak kedua kepada putrinya. Dengan berat hati, sang anak memberitahukan bahwa rahimnya bermasalah karena terkena kista dan jika melahirkan nanti maka rahimnya harus diangkat. Si anakpun mohon doa restu dan izin atas apa yang sedang terjadi. Dengan perasaan sedih orangtua pun memberikan izin dan restunya kepada sang anak untuk tetap melanjutkan kehamilannya dan dengan ikhlas merelakan rahim anaknya diangkat jika itu adalah jalan terbaik untuk keselamatan dan masa depan anaknya.

 

Di sisi lain, sang istri menghubungi sang abang tercinta dan minta pendapat yang jauh di Sumatera. Mendengar berita ini, sang abang pun berpendapat sama dengan orangtua dengan memberi izin dan rela dengan saran yang disampaikan oleh dokter. Mendengar keputusan ini, semangat sang istripun bertambah dan keyakinannya semakin kuat untuk terus memperjuangkan Buah Hati mereka berdua.
 

Haripun berlalu, tepatnya pada tanggal 10 November 2010, tibalah proses kelahiran sang bayi ke dunia ini di salah satu rumah sakit terkenal di Bandung, yang kebetulan tempat sang suami bekerja. Tepatnya jam 07.00 WIB, Dokter bersama Tim memutuskan agar dilakukan operasi caesar terhadap sang istri. Sang suami pun memberikan izin dan penuh harap agar sang istri dan si bayi selamat. Operasi pun berlangsung sampai akhirnya sekitar jam 08.00 WIB sang bayipun lahir dengan selamat namun harus di inkibator karena lahir dengan berat yang kurang.
 

Kebahagiaan pun terlihat di wajah sepasang suami-istri tersebut. Sang anak lahir dengan selamat meskipun harus di rawat di bagian khusus. Sang istripun dengan semangat mengirim SMS kepada orangtua dan semua saudara, handai taulan serta para sahabat.
 

Dalam suasana bahagia, sekitar jam 14.00 WIB sang istri mengalami pendarahan. Dokter dan Tim segera melakukan tindakan evakuasi kepada sang istri dan memberikan transfusi darah. Sang suami panik dan bingung harus berbuat apa. Dengan berusaha untuk tetap tenang sang suami pun menghubungi salah satu abang iparnya yang kebetulan juga seorang dokter dan memberitahukan kondisi terakhir sang istri. Pada saat itu sang Abang Dokter sedang berada di luar kota dan memberikan arahan kepada sang suami untuk melakukan hal-hal sesuai dengan ketentuan kedokteran.
 

Alhamdulillah sekitar jam 15.00 WIB, sang istripun sadar dan kembali bersenda gurau. Akan tetapi pendarahan tetap terjadi dan sang suami semakin khawatir akan kondisi sang istri. Kondisi ini segera diberitahu kepada sang abang dokter untuk mendapatkan tindakan apa yang harus dilakukan kepada sang istri dan tim dokter. Tim Dokter terus mengawasi dan melakukan tindakan-tindakan preventive.
 

Sekitar jam 17.30 WIB, tiba-tiba sang istri bertanya kepada sang suami, “ayah, berapa lagi sih uang yang ada di ATM bunda?”. Sang suami menjawab “ sekitar 3 juta an lebih bunda, kenapa?” Sang istripun dengan yakin dan tegas mengatakan kepada sang suami,” ayah, tolong ambil 3 juta dan lebihnya tinggalkan di ATM lalu segera serahkan ke mama untuk di bagikan kepada yang membutuhkannya”. Mendengar permintaan sang istri ini, sang suami mengatakan kepada istrinya, ” bunda, hari kan sudah mulai gelap, besok saja uang itu di bagikan karena kasihan mama jika malam-malam harus keluar dan mencari orang-orang yang benar-benar membutuhkan”. Tiba-tiba sang istri langsung menjawab dengan tegas,” tidak bisa ayah, harus malam ini juga, sudah tidak ada lagi waktu. ”. Sang suamipun pamit kepada sang istri untuk menemui salah seorang teman kerja guna meminta tolong mengambil uang yang dimaksud dan menyerahkan pesan sang istri ke mama.
 

Dalam perjalanan kembali menuju kamar perawatan istrinya, sang suami pun menyempatkan diri pergi ke mushola dan melakukan sholat. Dalam doanya, sang suami pun menangis dan bertanya kepada Allah, “Ya Allah, apa gerangan yang akan terjadi kepada istriku…? Jika engkau akan mengambilnya dariku, aku ikhlas ya Allah, akan tetapi berilah waktu agar anakku bisa kembali kepada bundanya walau sesaat untuk merasakan air susu ibunya…?” sang suami pun terus menangis tersedu.
 

Dengan ketabahannya dan dengan langkah yakin, sang suamipun berjalan menuju ke kamar sang istri. Sekitar jam 18.00 WIB Tim Dokter menemui sang suami dan memberitahukan bahwa Tepat jam 19.00 WIB, diputuskan bahwa Rahim sang istri harus diangkat. Berita ini pun segera di beritahukan kepada orangtua dan keluarga terdekat.
 

Setelah orangtua masing-masing mereka hadir dan beberapa keluarga berdatangan, maka tepat jam 19.00 WIB operasi pun dilaksanakan. Sebelum operasi berlangsung, sang istri sempat membisikkan sebuah kalimat yang akan menjadi kalimat terakhir untuk sang suami dan si buah hati. Kalimat yang menyayat hati sang suami,” selamat tinggal sayang… jaga anak kita dan peluk cium buat dia, Bismillaahi Allaahu Akbar…”. Mendengar ini, sang suamipun memberikan kecupan hangat ke kening sang istri yang juga menjadi kecupan terakhir buat sang istri.
 

Kepergian sang istri menuju ruang operasi diiringi lambaian tangan suami dan seluruh keluarga. Sang suamipun tiba-tiba jatuh dan terduduk melihat sang istri menuju ruang operasi. Tangisan pun tak tertahankan lagi mengingat pesan dari sang istri tercinta. Pihak Keluarga bingung dan bertanya ada apa gerangan dan sang suami pun memberitahukan pesan yang telah disampaikan oleh sang istri kepadanya. Spontan saja semua akhirnya menangis dan berdoa… berzikir untuk keselamatan sang istri…
 

Tepatnya jam 21.00 WIB operasi selesai akan tetapi sang istripun belum sadarkan diri. Waktu pun berjalan, sang istri belum juga membuka mata dan belum memperlihatkan senyuman indahnya. Pendarahan demi pendarahan tidak teratasi dan dokter terus melakukan tindakan. Dan akhirnya tepat jam 24.00 WIB, tim dokter sudah tidak bisa berbuat banyak atas Kehendak Allah dan sang istripun dinyatakan TELAH MENINGGAL DUNIA. Tangisan suami pun meledak dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
 

Istri sholeha yang didambakannya telah pergi untuk selama-lamanya dan meninggalkan kenangan indah seorang anak perempuan. Istri yang mengerti dan menerima setiap kekurangannya, yang mendampinginya saat duka dan suka. Kini semua tinggal kenangan.

Sang bayi tercinta yang telah hadir menggantikan sang istri, diasuh dan dibesarkan bersama ibu mertua. Tanpa mengenal lelah dan waktu, sang suami terus berjuang membesarkan si anak.

 

Sudah 4 tahun berlalu, sang anak tumbuh pesat dengan kelincahan dan kepintarannya. Wajah dan kelincahannya sangat mirip dengan bundanya yang telah pergi. Namun sampai saat ini sang suami belum juga menikah. Oleh pihak keluarga istri sudah merelakan agar sang suami segera menikah. Namun, jawaban yang tidak disangka dan menghentakkan hati sanubari seluruh keluarga, sang suami mengatakan, “saya belum mau menikah karena saya masih sayang dan cinta kepada istri saya, jangan paksa saya menikah. Saya akan menikah di saat rasa ini dan raga ini sudah dicabut oleh Allah SWT.” Jawaban yang membuat hati keluarga menangis dan mengucapkan terima kasih kepada Allah karena telah memberikan menantu dan ipar yang sangat mencintai anak/adik kami yang tercinta yang telah pergi menghadap Allah SWT.

Kisah ini ku persembahkan untuk adik tercinta.
 

I Love you so much… and I will always miss you
 

Selamat jalan sayang… Semoga Allah memberikanmu tempat yang terbaik di sisi-Nya. Anakmu kini tumbuh dan besar… segalanya mirip di saat kau masih kecil. Hati ini terobati dengan kehadiran anakmu meski terkadang hati ini menangis atas kepergianmu.
 


Oleh: Bang Opieq - Bengkalis